banner 728x90

Ramadhan Syahrun Mubarakun

persiapan-ramadhan - muslim-or-id

 

 

Orang-orang yang beriman sudah sepantasnya menyambut bulan Ramadlan dengan penuh rasa syukur disertai  harapan dan kecemasan (raghaban wa rahaban).

Mereka bersyukur karena akan memperoleh anugerah  dari Allah SWT, memasuki  bulan yang penuh dengan barakah dariNya. Mereka berharap  mudah-mudahan senantiasa diberikan ma’unah dan taufiq dari Allah SWT, sehingga mampu berupaya meraih keberkahan Ramadlan melalui amaliah-amaliah yang dituntunkan, sehingga kelak dapat masuk syurga. Namun dibalik itu terselip perasaan cemas, kiranya tidak lagi berkesempatan memasuki Ramadlan karena ajal keburu menjemput mereka atau berkesempatan memasukinya namun tidak mampu memanfaatkan keberkahannya disebabkan godaan kenikmatan duniawi yang masih menyelimutinya sehingga Ramadlan berlalu tanpa meninggalkan pengaruh yang berarti.

Marhaban Ya Ramadlan, kalimat ini digunakan oleh para ulama   untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu yang berarti selamat datang.  Marhaban, dalam bahasa arab,  terambil dari kata rahb yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.”

Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat datang Ramadhan” mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita. Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan ramadlan itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT.

Bulan Ramadlan sudah seharusnya disambut dengan penuh rasa bahagia dan suka cita, karena ibarat tamu, Ramadlan akan datang menemui kita dengan membawa sejumlah oleh-oleh yang tak terhingga  nilainya. Itulah sebabnya,  mengapa Rasulullah SAW  menyebut bulan Ramadlan dengan istilah “syahrun mubarakun” (bulan penuh barakah), karena di dalam bulan ini terdapat sejumlah keistimewaan yang tidak terdapat di luar Ramadlan.

 

Ramadlan Bulan Barakah (Syahrun Mubarakun)

 

Ramadlan  sebagai bulan barakah dijelaskan oleh Rasulullah SAW  dalam sebuah Hadits yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَتُغَلَّقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW . pernah bersabda  : Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya (tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini). ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

 

Barakah berasal dari bahasa arab (البركة). Menurut bahasa barakah berarti:  tambahan dan perkembangan dalam kebaikan (az-Ziyadah wa an-nama’ fi al-khair). Sedangkan menurut istilah, al-barakah, menurut Ar Raghib berarti : “ tetapnya kebaikan Allah pada sesuatu.” Bulan Ramadlan disebut bulan barakah disebabkan di dalamnya terdapat sederet kebaikan yang akan dianugerahkan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Berikut ini akan dinukil sejumlah keberkahan bulan Ramadlan berdasarkan Hadits sebagaimana yang disebutkan di atas:

 

Pertama — Keuntungan Berpuasa:

Dalam bulan Ramadlan umat Islam diwajibkan berpuasa yang dengannya mereka akan  memperoleh beberapa keuntungan, yakni:

 

  1. PUASA DAPAT MENGANTARKAN SESEORANG KEPADA DERAJAT MUTTAQIN.  

Ini sesuai dengan firman Allah SWT:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِڪُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ – ١٨٣

Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

 

Bagi orang yang  bertaqwa, Allah menjanjikan kepadanya antara lain: diberikan berbagai kemudahan, rizki yang tak diduga,  jalan keluar dari kesulitan dan ketenangan jiwa serta terhindar dari rasa takut dan khawatir. (Lihat al-Qur’an, surat at-Thalaq:3; al—Anfal:35; dll)

 

  1. PUASA DISEBUTKAN OLEH ALLAH SEBAGAI IBADAH

Bagi orang yang melakukan puasa Allah akan memberikan pahala berlipat-lipat tanpa batas.

 

Rasulullah SAW  bersabda:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ…… يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

“Allah azza wajalla berfirman:  Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR Bukhari Muslim)

 

Puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa.  Misalnya, Allah tidak makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah. Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah adalah salah satu sifat Allah yang seharusnya juga kita teladani. Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan.  Allah Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur’an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.

 

Rasulullah SAW  bersabda:

  كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ(

“Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh hingga tujuh ratus lipat. Allah ta’ala berfirman kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah milikku, Aku akan membalasnya (tanpa batas)” (HR. Bukhari Muslim).

 

  1. PUASA RAMADLAN DAPAT MENDATANGKAN AMPUNAN ALLAH SWT.

Karenanya dosa-dosa seseorang akan terhapus.

Rasulullah SAW  bersabda:

« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ».

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni.” (HR Bukhari Muslim dan Abu Dawud)

 

Mengenai apa macam dosa yang diampuni, terdapat   hadis yang menyatakan bahwa yang bisa diampuni oleh beberapa jenis ibadah tersebut adalah dosa-dosa kecil. Hadis dimaksud adalah sebagai berikut,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقُولُ « الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ ». صحيح مسلم

Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi SAW . telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya, puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.” (H.R.Muslim)

Ibnu ‘Abdil-Barr (w. 463/1071), seorang ulama besar dari Cordova, Spanyol, menegaskan dalam kitabnya At-Tamhid bahwa memang ada beberapa orang ahli ilmu pada zaman ini yang berpendapat   dapat menghapus dosa-dosa besar. Akan tetapi ia mengomentari pendapat tersebut dengan agak keras dengan menyatakannya sebagai pendapat jahil dan menyetujui ajaran Murjiah. Dari uraiannya yang panjang dapat pula dipahami bahwa dosa yang disengaja tidak dapat ditutupi oleh hikmah ibadah. Dosa-dosa besar dan disengaja dapat diampuni apabila pelakunya bertobat nasuha dengan menyesalinya dan memperbaiki diri serta bertekad untuk tidak mengulangi lagi (At-Tamhid, IV: 44-49).

 

  1. PUASA RAMADLAN DAPAT MENJADI PENOLONG (SYAFAAT) SEORANG HAMBA KELAK DI KEMUDIAN HARI.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، يَقُولُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، قَالَ : فَيُشَفَّعَانِ.

Dari Abdullah bin Umar, Nabi Muhammad SAW  bersabda, “Puasa dan al-Quran akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Ya Allah, saya telah menghalanginya dari makanan dan syahwatnya, maka berilah aku hak syafaat untuknya”. Al-Quran juga berkata, ‘Ya Allah, aku telah menghalanginya dari tidur di waktu malam, maka berikan padaku syafaat untuknya.” Lalu keduanya diizinkan untuk memberi syafaat.”  (HR Ahmad 6626; Hakim 1/554).

 

  1. PUASA RAMADLAN AKAN MENGANTARKAN SESEORANG MASUK KE DALAM SYURGA DAN MENJAUHKAN NERAKA.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ . قَالَ : عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ ؛ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ أَوْ قَالَ : لاَ مِثْلَ لَهُ. – مسند أحمد

Dari Abu Umamah, saya berkata:” Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku amalan yang akan mengantarkanku masuk syurga. Beliau menjawab: engkau wajib berpuasa, sesungguhya puasa tidak ada tandingannya, atau ia bersabda, tidak ada semisalnya.”

Dari Abu Said Al-Khudri secara marfu’:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِهَذاَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا

“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah kecuali karenanya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Al-Bukhari no. 2840 dan Muslim no. 1153)

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَدْخُلُونَ مِنْهُ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ ».

“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup.” (HR. Bukhari)

 

Hadis tersebut menerangkan keutamaan puasa dan kedudukan orang-orang yang berpuasa di sisi Allah. Atas keikhlasan dan kesabaran mereka dalam menjalankan ibadah puasa, dengan menahan lapar dan dahaga, mengendalikan hawa nafsu. Maka Allah Swt. mengistimewakannya dengan memasukkan mereka ke dalam surga melalui pintu khusus yang bernama “ar-Rayyan”. Kata ini berasal dari bentuk ar-Ray yang berarti pengairan, segar, dan juga pemandangan yang indah.
Nama “Ar-Rayyan” ini, sesuai dengan keadaan orang-orang puasa yang menahan dirinya dari makan dan minum. Karena ini yang lebih dirasakan oleh orang yang sedang berpuasa dibanding rasa lapar.

 

  1. PUASA DAPAT MENYEBABKAN DO’A SESEORANG AKAN DIKABULKAN OLEH ALLAH SWT.

Rasulullah SAW  bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ ، الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَالصَّائِمُ ، حَتَّى يُفْطِرَ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ، يَرْفَعُهَا اللَّهُ دُونَ الْغَمَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَيَقُولُ : بِعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ.

“Ada Tigaorang yang tidak ditolak  do’anya yaitu:  pemimpin yang adil , orang berpuasa hingga berbuka puasa, dan do’a orang teraniaya. Allah mengangkat do’anya ke awan pada hari kiamat  dan membukakan pintu-pintu langit. Dia berfirman  ‘Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

 

  1. PUASA MAMPU MENJADI PENGENDALI BAGI GEJOLAK HAWA NAFSU TERUTAMA NAFSU SEKSUAL.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.   –  البخاري

“Barangsiapa  yang telah mampu memberikan nafkah, hendaklah menikah. Karena menikah itu paling (mampu) menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, ia harus berpuasa. Karena puasa mempunyai daya tekan nafsu seksual. (HR Bukhari)

 

  1. PUASA AKAN BERPENGARUH BAGI  PENINGKATAN  KESEHATAN SESEORANG.

Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.

Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas, mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh.

 

 Kedua — Pintu Neraka Ditutup:

Pintu-pintu langit dibuka, dan pintu-pintu neraka di tutup.  Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim  disebutkan  pintu-pintu rahmat  dibuka

Rasulullah SAW bersabda

« إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ » مسلم

“Apabila Ramadlan telah tiba, maka pintu-pintu surga akan dibuka, lalu pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan pun akan dirantai.”

 

Sedangkan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i disebutkan dibuka pintu-pintu syurga

Rasulullah SAW  bersabda

 هَذَا رَمَضَانُ قَدْ جَاءَ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ النَّارِ، وَتُسَلْسَلُ فِيهِ الشَّيَاطِينُ ” أحمد “. قال الشيخ الألباني  – صحيح

“Sekarang tiba bulan Ramadlan, karenanya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan di rantai”

 

 Hadits-hadits di atas menunjukkan berkah ramadlan sebagai bulan diturunkan rahmat Allah bagi hamba-hambaNya yang menjalankan amaliah-amaliah masyru’ah di dalamnya. Rahmat yang tertinggi adalah terbuka pintu-pintu syurga dan dipersilahkan hamba-hamba Allah untuk memasukinya dan tertutup pintu-pintu neraka sehingga hamba-hambanya tidak akan memasikunya.

 

 Ketiga —  Setan-setan Dibelenggu

Ada beberapa penjelasan dari para ulama mengenai maksud dari perkataan Rasulullah SAW bahwasanya syetan-syetan “dibelenggu” pada bulan suci Ramadhan:

  1. Al-Hulaimi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan syetan-syetan di sini adalah syetan-syetan yang suka mencuri berita dari langit saja yang terjadi di waktu malam bulan Ramadhan karena pada zaman turunnya Al-Qur’an mereka pun terhalangi untuk melakukan hal tersebut dan dengan adanya “belenggu” tersebut, maka akan menambah penjagaan (sehingga syetan-syetan tersebut tidak mampu melakukannya lagi).

2. Syetan tidak bisa leluasa untuk mengganggu dan mencelakakan manusia tidak seperti biasanya, karena manusia sibuk dengan shaum, membaca Al-Qur’an dan berdzikir.

3.  Yang dibelenggu hanya sebagiannya saja, yaitu syetan-syetan yang membangkang sebagaimana dijelaskan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim. Dari Abu Hurairoh RA. Rasulullah SAW bersabda: “Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dibelenggu. Yaitu syetan-syetan yang membangkang.”
4. Yang dimaksud dengan “dibelenggu” merupakan suatu ungkapan akan ketidakmampuan syetan untuk menggoda dan menyesatkan manusia.

 

 Keempat — Turun Lailatul Qodar

Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia.   Allah menjelaskankan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan

Allah SWT berfirman dalam surat al-Qadar:

 إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
  1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[lailatul qadar]. 2. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? 3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. (Qs. al-Qadar: 1-5)

 

Lailatul qadar dikatakan sebagai malam kemuliaan  lantaran malam itulah awal al-Qur’an diturunkan; dan  begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu.

Sabda Nabi :

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa mendirikan shalat pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).
Malam Lailatul Qodar berdasarkan Hadits Nabi SAW  terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir, Karena itu, seyogyanya seorang muslim yang senantiasa mengharap rahmat Allah dan takut dari siksa-Nya, memanfaatkan kesempatan pada malam-malam itu untuk lebih meningkatkan kesungguhannya dalam berimadah kepada Allah, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, do’a, istighfar dan taubat yang sebenar-benamya.

 

Kelima — Diturunkan al-Qur’anul Karim

Di antara barakah bulan ramadlan adalah di dalamnya diturunkan al-Qur’anul karim, sebagaimana hal ini difirmankan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat: 185

 

شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ

 (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS Al Baqarah 185)

 

Dalam ayat lain disebutkan:

 

كِتَـٰبٌ أَنزَلۡنَـٰهُ إِلَيۡكَ مُبَـٰرَكٌ۬ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ – ٢٩

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS Shaad 29)

 

Allah SWT menyebutkan Al-Qur’an sebagai kitab yang penuh dengan berkah disebabkan  dengannya seseorang akan mendapatkan berbagai kebaikan untuk kepentingan kehidupannya di dunia dan di akhirat. Di antara berkah al-Qur’an ialah ia berfungsi sebagai pelajaran, penawar, penyakit hati, petunjuk dan rahmat dari Tuhan Penguasa sekalian alam.

Allah SWT berfirman:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٌ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ وَشِفَآءٌ۬ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدً۬ى وَرَحۡمَةٌ۬ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ – ٥٧

 Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS Yunus 57)

 

Di antara berkah al-Qur’an, jika ia dibaca akan mendatangkan pahala yang besar, yaitu setiap hurufnya diberikan pahala sepuluh kali.

Rasulullah SAW  bersabda:

 مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

  “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf.” (HR Turmudzi)

 

Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW  menjelaskan bahwa al-Qur’an kelak di hari kiamat akan dapat member syafaat kepada para pembacanya

Dalam Hadits disebutkan:

عن أَبي أُمَامَةَ – رضي الله عنه – ، قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، يقول : (( اقْرَؤُوا القُرْآنَ ؛ فَإنَّهُ يَأتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيعاً لأَصْحَابِهِ )) رواه مسلم

Dari Abu Umamah ra., ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW  bersabda: “Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti” .(HR Muslim)

 

 

Persiapan Menjelang Ramadlan

 

Sungguh amat disayangkan sekiranya bulan Ramadlan yang penuh barakah tersebut akan berlalu,  tanpa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sementara tidak ada seorang pun yang mengetahuinya apakah tahun berikutnya masih dapat menjumpainya kembali. Oleh karenanya, sebelum memasuki bulan Ramadlan seharusnya dilakukan persiapan-persiapan, diantaranya.

 
1. Menjelang Ramadlan seseorang harus membangun tekad dan kemauan dapat memanfaatkan bulan Ramadlan dengan sebaik-baiknya, dengan keyakinan tahun depan belum bisa dipastikan akan menemui lagi bulan Ramadlan. Persiapan Ruhiyah dengan cara memperkokoh iman sebagai landasan seseorang dalam melakukan ibadah kepada Allah SWT.   Iman yang kokoh akan melahirkan mahabbatullah (mencintai Allah), ar-raja’ wal khouf ( berharap dan takut) kepada Allah. Dengan ketiga sikap ini  seseorang akan mampu melaksanakan ibadah dengan ikhlas, bersungguh-sungguh, istiqomah dan khusyu’.

 
2. Persiapan amaliyah dengan memperbanyak melakukan  puasa Sunah di bulan Sya’ban.

Hal ini didasarkan kepada Hadits yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ … مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ. – متفق عليه

Artinya: “Dari ‘Aisyah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: … Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW  berpuasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan. Juga sayatidak pernah melihat beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya‘ban.” (Muttafaq ‘Alaih).

 

Berpuasa di bulan Sya’ban selain sebagai ibadah,  ia mempunyai hikmat untuk menciptakan kondisi diri menjelang berpuasa di bulan Ramadlan, sehingga ketika saat memasuki bulan Ramadlan seseorang telah terkondisi dengan baik. Selain berpuasa, hendaklah seseorang memperbanyak amaliah-amaliah masyru’ah yang lain seperti rajin menghadiri shalat jamaah, memperbanyak shadaqah, tadarus al-qur’an menjauhi perbuatan-perbuatan tercela atau tidak bermanfaat, dan lain-lain.

 

3.  Persiapan ilmiah dalam bentuk  melakukan kajian-kajian keilmuan dengan menghadiri majlis-majlis ilmu atau membaca buku-buku yang membahas tentang berbagai tema keagamaan terutama seputar Ibadah-Ibadah di Bulan Ramadlan. Dengan demikian, seseorang akan berhasil menjaga amaliahnya berdasarkan ilmu yang diketahuinya dan sesuai yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW . Sebaliknya ia akan terhindar dari sikap taqlid atau mengada-ada dalam beribadah (bid’ah).

Allah melarang seseorang melakukan sesuatu tanpa didasarkan oleh ilmu, Dia berfirman:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ‌ۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولاً۬ – ٣٦

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al Isra’ 36)

 

Rasulullah SAW  di dalam sabdaNya melarang seseorang membuat-buat tatacara ibada yang tidak dituntunkan olehNya.

 وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ” – الطبراني

Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan. Karena setiap bid’ah adalah tersesat. (HR At-Thabrani)

 

4. Persiapan fisik,  baik yang menyangkut diri pribadi maupun sarana dan prasarana yang diperlukan. Puasa adalah ibadah fisik. Disebut demikian karena untuk dapat melaksanakan ibadah ini dibutuhkan fisik yang sehat, tidak sedang sakit juga sarana-prasarana yang memadai, seperti makanan untuk sahur dan berbuka. Lebih-lebih untuk melakukan ibadah-ibadah terkait bulan Ramadlan seperti, shalat tarwih, bersedakah, dan lain-lain.  Oleh karenanya diperlukan persiapan-persiapan diri seperti menjaga kesehatan diri dengan memperbanyak olahraga atau banyak mengkosusmsi vitamin-vitamin; menyiapan  persediaan makanan dan lain-lain. Sedangkan untuk persiapan sarana-prasarana seperti tempat-tempat ibadah, majelis-majelis ilmu   diperlukan usaha-usaha pengadaan atau pembenahan-pembenahan. ●

Kontributor artikel ini:

Zaini MunirFadloli

 

Artikel terkait:

TUNTUNAN IBADAH RAMADHAN
Pertanyaan-Pertanyaan Seputar Puasa dan Zakat
7 Amalan Utama Ramadhan
Shalat Layl Rasulullah

 

banner 468x60