banner 728x90

Perbuatan Tergantung Niat

ahmad-ibn-hanbal - niat yang baik

Hadits Bukhari - Perbuatan Bergantung Niat

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata; bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id Al Anshari berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi; bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab di atas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.”

Takhrij

Hadits tersebut diriwayatkan dari Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair oleh Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab “Permulaan Wahyu”, Bab “Permulaan Wahyu”.  Dengan Juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab. Kualitas hadits ini shahih.

Mufrodat

Makna إنما

Jika merujuk ulama besar Mazhab Syafii dan Maliki, Muhammad bin Ali Wahbin atau yang dikenal sebagai Ibnu Daqiq Al ‘Ied,  kata “innama”  mempunyai makna pembatasan (al hashru) sebagaimana telah tetap dalam ushul. Pembatasan tersebut terkadang secara mutlak dan terkadang khusus, hal itu dapat difahami sesuai dengan konteks dan redaksinya.

Adapun pembatasan khusus seperti firman Allah إنما أنت منذر  [ innama anta mundzir – sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan – QS Ar Ra’d 7 ] “. Ayat ini secara tersurat menunjukkan pembatasan tugas Rasul sebagai pemberi peringatan saja, padahal beliau mempunyai sifat-sifat lain yang terpuji seperti pemberi kabar gembira, pembaik akhlak manusia dan lain-lain.

Sedangkan dalam hadits di atas, pembatasan itu bermakna secara mutlak. Artinya, innama di situ berarti “tidak ada secara mutlak”.

Makna الأعمال

Ini adalah bentuk jama’ dari amal. Yang dimaksud dengan amal disini ialah amalan badan dan lisan. Kalau demikian, bagaimana dengan amalan hati? Ada penjelasan dari Al Hafidz Ibnu Hajar yang mencerahkan, yakni: ”Adapun amalan hati seperti niat maka tidak masuk ke dalam hadits ini agar tidak terjadi tasalsul (berantai). “

Maksud beliau adalah bahwa amalan hati tidak membutuhkan niat. Contohnya adalah niat. Ia adalah amalan hati. Tidak membutuhkan niat untuk berniat. Soalnya, jika tidak demikian, niscaya akan terjadi rantai niat yang sangat panjang yang tak ada ujungnya. Di antara contoh amalan hati adalah cinta, benci, tawakkal, takut, beriman atau lainnya.“

Makna بالنيات

Huruf  ba disini mempunyai makna al mushahabah (menemani) sehingga menunjukkan bahwa niat itu bagian dari amalan itu sendiri dan disyaratkan tidak boleh terlambat di awalnya. Mungkin juga mempunyai makna sababiyah (sebab) yaitu penegak amalan seakan-akan ia adalah menjadi sebab terjadinya amalan tersebut.

Alif lam pada kata النيات  bertugas sebagai pengganti dlamir (kata ganti) sehingga taqdirnya begini الأعمال بنياتها  [amal itu sesuai niatnya]. Ini menunjukkan keharusan menentukan niat, seperti berniat untuk shalat atau bukan, wajib atau sunnah, shalat dzuhur atau ashar, qashar atau sempurna dan lain sebagainya.

Lalu apakah harus berniat dengan jumlah raka’atnya? Yang shahih tidak harus, akan tetapi cukup menentukan ibadah yang akan ia lakukan saja, contohnya orang yang sedang safar cukup ia menentukan niat shalat qashar saja tidak perlu menyebutkan jumlah raka’atnya karena ia adalah konsekuensi qashar.

Konsekuensi makna

Kita dapat mengambil hikmah dari sanad hadits ini yaitu bahwa hadits ahad adalah hujjah dalam aqidah. Sebab, niat adalah perbuatan hati yang merupakan tempat aqidah.

Niat adalah motif di balik suatu perbuatan, yang pangkalnya berada dalam hati – sama sekali bukan di lidah. Konsekuensi lanjut dari pemahaman terhadap ini adalah betapa tidak perlu atau tidak pentingnya niat itu dilisankan secara rapi jali. Sebab, pelisanan atau pelafalan itu adalah pekerjaan lisan, yang bisa jadi tidak bersesuaian dengan niat hati yang sesungguhnya. Bisa jadi lisan mengucapkan “saya mengincar yang merah”, tapi sesungguhnya yang dituju adalah hijau.

Itulah sebabnya niat ibadah tidak diseyogyakan untuk dibuat dengan redaksional yang ditata berlarik-larik yang kemudian dihapalkan, karena hal itu melenakan. Misalnya, “aku berniat shalat hanya karena Allah” – padahal motivasi shalatnya itu adalah supaya dilihat seseorang.

Ini menjelaskan betapa pentingnya niat itu sebagai dasar atau fondasi bagi amal perbuatan.

Syarah

Hadits ini, ditilik dari rawinya, merupakan hadits ahad gharib mutlak, karena ia hanya mempunyai satu sanad saja. Yakni tidak ada yang meriwayatkan dari kalangan shahabat kecuali Umar bin Al Khaththab; dan tidak ada yang meriwayatkan dari Umar kecuali Alqamah bin Waqqaash Al Laitsi; dan tidak ada yang meriwayatkan dari Alqamah kecuali Muhammad bin Ibrahim At Taimi dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Yahya bin Sa’id Al Anshari –  dan dari beliau banyak sekali ulama yang meriwayatkannya.

Al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata :”Telah mutawatir dari para imam mengenai keagungan hadits ini.”

Dikabarkan oleh beberapa sumber bahwa Abu Abdillah, berkomentar: ”Tidak ada pada hadits hadits Nabi SAW yang lebih banyak dan kaya akan faedah dari hadits ini.“ Abu Abdilah merupakan nama kuniyah atau nick name dari dua ulama yang sama-sama sangat berkompeten: Anas bin Malik dan Ahmad bin Hambal. Siapa pun dari keduanya yang berpendapat demikian, sudah tegas memperlihatkan kualifikasi hadits tersebut.

Para imam seperti Abdurrahman bin Mahdi, Asy Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ali bin Al Madini, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Daraquthni, dan Hamzah Al Kinani juga sepakat bahwa hadits ini adalah “sepertiganya Islam”. Yang lain lagi menyebutnya, “seperempatnya Islam”.

Uraian istilah tersebut kita dapat dari Al Baihaqi. Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sepertiga ilmu –kadang disebut juga “sepertiganya ber-Islam”–, yaitu bahwa perbuatan hamba terjadi dengan hati, lisan dan anggota badannya. Sedangkan niat adalah wujud dari salah satu dari tiga anggota tadi, yakni hati, yang bahkan pemberi andil yang paling kuat. Niat terkadang menjadi sebuah ibadah tersendiri dan yang lainnya sangat butuh kepadanya, sehingga dikatakan bahwa niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya.  Karena niat merupakan satu dari tiga kiprah manusia, maka hadits tentang niat disebut sebagai “sepertiga ilmu”. ˜

Tim Redaksi

Bahan dari pelbagai sumber

banner 468x60