banner 728x90

Pentingnya Berjamaah

jamaah -sdmuh1bangkalan.wordpress

Salam Tabligh #11

 

Pembaca yang budiman!
Rasulullah memerintahkan kita untuk senantiasa berjama’ah: “Hendaklah kamu sekalian berjama’ah, karena sesungguhnya serigala hanya akan menerkam domba yang terpisah dari jama’ahnya”. Sabda Rasulullah tersebut menekankan betapa pentingnya berjama’ah.

Salah satu kodrat manusia adalah selalu hidup bermasyarakat atau berjama’ah. Hampir tidak mungkin kita hidup sendirian. Keberadaan seseorang dan orang lain saling melengkapi dan saling membutuhkan. Apapun aktivitas yang kita lakukan, langsung atau tidak, hampir dipastikan melibatkan orang lain. Sebagai contoh, untuk memenuhi kebutuhan yang melekat pada badan semuanya melibatkan orang lain. Baju yang kita pakai melibatkan petani kapas, pabrik tekstil, pabrik kancing baju, pabrik jarum, pabrik mesin jahit, penjahit, dan pedagang. Semua pabrik mempekerjakan manusia. Demikian pula untuk perhiasan yang kita pakai, jam tangan, telepon seluler, apa yang kita makan, dan lain sebagainya pasti melibatkan banyak orang dalam prosesnya.

Kehidupan bermasyarakat yang ideal adalah kehidupan yang sesuai dengan yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana tertulis di dalam kitab al-Qur’an yang implementasinya sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah SAW yang bisa kita runut melalui as-Sunnah as-Shahihah/al-Maqbulah. Itulah norma terbaik sepanjang masa sampai akhir jaman. Kehidupan ideal tersebut akan terwujud bila masyarakatnya di-dominasi oleh pribadi-pribadi muslim yang sebenar-benarnya. Adalah tugas kita ber-sama mewujudkan sebanyak-banyaknya pribadi muslim yang sebenar-benarnya, dimulai dari diri kita masing-masing.

Kita semua telah mengerti bahwa pengaruh lingkungan mempunyai andil yang besar dalam proses pembentukan kepribadian. Bahkan Rasulullah SAW menyatakan bahwa: “Setiap orang dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka adalah bapak-bapaknya yang menjadikan ia menjadi Yahudi, Nashrani, atau Majusi”. Bapak-bapak atau orang tua, atau ada yang memahami sebagai “lingkungan” mempunyai pengaruh menentukan dalam mengarahkan anak-anaknya akan menjadi apa.

Perintah Rasulullah SAW kepada kita untuk berjama’ah, mengandung maksud agar kita berada dalam lingkungan jama’ah yang baik, yakni jama’ah dari orang-orang yang berpegang teguh pada ajaran agama Islam. Dari Abu Hurairah R.A., Nabi SAW bersabda: ”Seseorang itu tergantung agama temannya, maka perhatikan siapa yang menjadi temannya”1. Beliau juga melarang menjadikan orang-orang yang tidak beriman menjadi teman2. Bahkan mereka yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dekat digolongkan sebagai orang munafik yang diberikan “kabar gembira” dengan adzab yang pedih.3 Rasulullah SAW mewanti-wanti kita agar memperhatikan betul dengan siapa kita bergaul. Bahkan, sekedar duduk-duduk minum bersama ahli mungkar kita dilarang karena akan menjadikan lidah kita kelu bernahi mungkar.

Perumpamaan dari berteman dengan orang baik dan orang tidak baik adalah seperti seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang pande besi. Penjual minyak wangi terkadang memberikan minyak wanginya kepadamu atau kamu membeli darinya, atau kamu mencium aroma harum darinya. Dan pande besi, mungkin ia akan membakar bajumu atau kamu merasakan hawa panasnya.4

Perintah Nabi untuk berjama’ah adalah isyarat agar kita senantiasa berada pada lingkungan yang baik. Betapa besar pengaruh lingkungan! Pada masa awal kehidupan kita, lingkungan keluarga yang didominasi ibu dan ayah memberikan pengaruh paling besar. Setelah itu, orang-orang yang tinggal serumah, teman, masyarakat, lingkungan sekolah, dan media. Informasi positif yang datang dari mereka akan diproses oleh otak kita menjadi mindset dan keyakinan yang positif dan disimpan dalam memori, yang pada saatnya akan menghasilkan pikiran dan perbuatan yang juga positif.

Sayangnya, informasi yang kita terima lebih banyak negatifnya. Kata-kata kotor, umpatan, caci-maki, ghibah, bicara aib orang, berita tentang korupsi, perampokan, pencurian, perselingkuhan, perceraian, kenakalan, perkosaan, keberingasan, dan perbuatan buruk lainnya, sangat sering masuk ke dalam otak kita. Penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran di San Fransisco pada tahun 1986 menyebutkan bahwa lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif. Di Indonesia nampaknya tidak jauh berbeda. Lihatlah sumber-sumber informasi yang banyak diakses masyarakat seperti TV, surat kabar, radio, dan lain-lain.

Berada dalam jama’ah ummat Islam yang positif, merupakan modal besar untuk membina diri menjadi pribadi muslim yang sebenar-benarnya. Bila Anda terlepas dari jama’ah yang positif, maka segera serigala-serigala akan menyergap Anda dengan berbagai cara, mulai dengan cara-cara halus hingga sangat kasar.

Siapakah serigala-serigala itu? Mereka adalah golongan yang mengingkari petunjuk Allah dan menolak menganut agama Islam. Mereka disebut sebagai orang kafir, ada kafir dzimmi dan kafir harbi. Kafir dzimmi adalah mereka yang mengingkari kebenaran Islam, tetapi mereka tidak memerangi Islam, dan hidup di bawah perlindungan ummat Islam. Sedangkan kafir harbi adalah mereka yang berusaha memerangi Islam baik dengan cara-cara kasar atau halus, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Allah mengingatkan kita bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah rela hingga kaum muslimin mengikuti millah mereka.

Orang-orang kafir harbi adalah “serigala-serigala” yang siap memangsa ummat Islam. Orang-orang Islam yang tidak berjama’ah dalam komunitas yang menjunjung tinggi agama Islam, ibarat “domba-domba” yang terpisah dari ja-ma’ahnya. Ia akan ditarik oleh “serigala” menjauhi komunitas muslim dan ajaran Islam, selanjutnya “dimangsa” hingga mengikuti millah mereka. Itulah cara halus menerkam ummat Islam. Mereka menjauhkan ummat Islam dari ajaran agamanya dengan memanfaatkan berbagai media yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak terang-terangan mengajak ummat Islam murtad dan memeluk agama mereka, tetapi mereka menawarkan millah atau gaya hidup yang menjauhkan dari ajaran Islam.

Dalam hal berpakaian, mereka menawarkan cara berpakaian membuka sebagian aurat, menjauhkan dari ajaran Islam menutup aurat. Dalam pergaulan antar jenis, mereka menawarkan pergaulan bebas, menjauhkan ummat dari ajaran Islam tentang adab pergaulan yang menjunjung tinggi kehormatan kemaluan yang harus dijaga kecuali atas pasangan yang terikat dalam pernikahan. Dalam bidang ekonomi, mereka menawarkan konsep kapitalis dan berbasis riba yang menjauhkan ummat dari kehidupan ekonomi yang Islami. Dalam kehidupan bernegara, mereka menawarkan sitem buatan manusia yang meninggalkan aturan Allah dan Rasul-Nya. Pendek kata, mereka berusaha menjauhkan ummat Islam dari ajaran Islam.

Televisi telah menjadi media yang mereka manfaatkan dengan sangat efektif melalui tayangan musik, sinetron, film, berita, infotainmen, talkshow, iklan, dan lain-lain. Demikian pula radio, media cetak, jejaring sosial, dan internet. Bila Anda membiarkan diri menjadi penonton setia televisi, pendengar setia radio, atau menjadi pembaca setia media cetak/elektronik mereka, tanpa disadari lama-lama Anda bisa menyetujui dan sepaham dengan pendapat dan gaya hidup mereka. Persis seperti kisah seekor katak yang ditaruh dalam air di atas tungku yang dipanaskan. Ia tidak menyadari air tempat ia tinggal semakin panas karena pemanasannya terjadi pelan-pelan, tahu-tahu suhunya sudah tinggi dan sang katakpun tak mampu lagi mengantisipasi. Akhirnya ia mati kepanasan.

Kitapun menyaksikan bahwa sebagian ummat Islam bernasib seperti sang katak. Melalui interaksi yang intens dengan orang-orang kafir dan media-medianya, pelan-pelan mengikuti millah mereka, dan semakin jauh dari agama Islam. Dalam berpakaian suka membuka sebagian auratnya. Dalam pergaulan antar jenis, telah menganggap wajar berciuman, cipika-cipiki, bahkan perzinahan. Dalam kehidupan bernegara, mereka menolak ajaran Islam. Mereka meskipun masih beragama Islam, tetapi tidak peduli lagi dengan ajaran Islam dan memilih mengikuti kehidupan yang tidak Islami. Bagi ummat Islam mereka tidak kalah berbahaya dibandingkan serigala kafir harbi. Mereka masih beragama Islam, tetapi hati dan pikirannya sudah kosong dari petunjuk sebagaimana orang kafir. Pantaslah kalau mereka disebut sebagai serigala berbulu domba. Mereka bisa menerkam dari dalam.

Di samping cara-cara halus, serigala-serigala “menerkam” juga dengan cara-cara kasar, seperti melakukan penyerbuan, intimidasi, pemaksaan, penebaran kebencian, dan pemurtadan. Umumnya mereka tidak berani secara terang-terangan memusuhi Islam, tetapi mereka membuat alasan-alasan supaya dapat menyerang ummat Islam seperti dengan membuat issue terorisme. Mereka mengatakan, yang diserang bukanlah Islam, tetapi mereka menyerang teroris. Dengan demikian ummat Islam lainnya tidak merasa sedang diserang, sehingga mereka terlena dan membiarkan saja kejadian tersebut berlangsung.
***
Menjadi Pribadi Muslim yang sebenar-benarnya bukanlah perkara mudah. Kita akan berhadapan dengan serigala-serigala yang siap menerkam kapanpun ketika kita lengah. Kelengahan terjadi ketika kita terpisah dari jama’ah kaum muslimin yang berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Islam. Marilah kita selamatkan diri kita dan keluarga kita dengan senantiasa berjama’ah.

Berjama’ah bisa kita lakukan dalam skala kecil di kampung, atau skala besar dalam sebuah jam’iyah yang bertaraf nasional atau internasional seperti Muhammadiyah. Di kampung kita dapat mengumpulkan orang-orang atau keluarga muslim di sekitar tempat tinggal kita dan membentuk jama’ah. Anda bisa memimpinnya atau bermusyawarah memilih yang terbaik di antara anggota jama’ah.

Fungsi utama jama’ah adalah sebagai media pembimbingan anggota-anggotanya sehingga menjadi pribadi-pribadi muslim yang sebenar-benarnya. Mereka bertauhid murni, berakhlak mulia, beribadah sesuai yang dituntunkan Nabi, dan bermuamalat islami.

Dalam jama’ah kita saling mengingatkan agar berperilaku Islami, membangun silaturrahim antar anggota jama’ah, saling bertolong-tolongan dan berbagi, mengajak dan mengingatkan shalat jama’ah.
Marilah kita ikuti Nabi Muhammad SAW dengan sebaik-baiknya.

Wassalam

Samarinda, 18 April 2013

dr. H. Agus Sukaca, M.Kes.

 

catatan:
1 HR Abu Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Daud
2 HR Ahmad, Tirmidzi &Abu Daud dari Abu Said Al Khudri
3 QS 4 (An Nisa) ayat 138 – 139
4 HR Bukhari, Muslim & Ahmad dari Abu Musa al-Asy’ari

banner 468x60