banner 728x90

Meninggalkan Debat

no-debate
“Seorang hamba tidak dikatakan beriman sepenuhnya hingga meninggalkan berbohong ketika bergurau dan juga meninggalkan berdebat meskipun benar”. (al-Hadits)
A. Pengertian

Menurut Wikipedia, debat merupakan kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik perseorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan/atau juga perbedaan. Jika dikelompokkan, setidaknya ada 3 (tiga) macam debat, yakni mira’, jadal dan khusumah. Mira’ adalah setiap bantahan atas ucapan orang lain dengan cara menampakkan, baik pada kalimat, makna, atau maksudnya, untuk menunjukkan keunggulan dirinya. Jadal adalah menyebutkan kelemahan pendapat orang lain dalam rangka mengukuhkan pendapatnya sendiri, membungkam lawan bicara dengan menunjukkan kesalahan ucapannya dan menisbatkan kebodohan kepadanya. Sedangkan, khusumah adalah ucapan yang keras demi mendapatkan harta atau hak.

Di antara ketiganya, mira’ dan jadal biasanya berakibat pada sikap menyakiti orang lain. Dengan demikian, keduanya (mira’ dan jadal) dapat membangkitkan nafsu amarah dan membela pendapatnya masing-masing dengan cara benar atau salah. Apabila ada dua orang yang berdebat, ibarat orang yang sedang berkelahi. Masing-masing saling berusaha merobohkan lawannya setelak mungkin. Jika satu pihak berhasil merobohkan pihak lain, seolah-olah ada kepuasan tersendiri dalam dirinya.

Kita seringkali menjumpai contoh-contoh mira’ berbentuk bantahan terhadap pendapat orang lain, meskipun terkait dengan hal-hal yang sepele. Di antara contoh-contoh mira’ adalah sebagaimana berikut: pertama, kritik atas kalimatnya dengan cara menampakkan kesalahan tata bahasa dan/atau penempatannya. Contoh dari kritik ini bisa dilihat dari ungkapan seseorang yang mengatakan: “jika ngomong jangan muter-muter seperti benang ruwet”. Kedua, bantahan atas makna argumentasi yang disampaikan seseorang. Contoh atas hal ini dapat dilihat dalam pernyataan berikut: “apa yang Anda katakan salah, tidak sesuai dengan fakta yang saya ketahui”. Ketiga, bantahan atas maksudnya. Contoh dari bantahan ini dapat dilihat dalam pernyataan berikut: “yang Anda katakan memang benar, tetapi apa maksud sesungguhnya di balik perkataan Anda? Saya curiga ada maksud-maksud tersembunyi!”.

B. Hal-hal yang Mendorong Perdebatan

Setiap orang pasti mempunyai cara pandang yang berbeda dalam menyikapi suatu peristiwa yang sama. Sebagai contoh misalnya cara pandang orang dalam melihat gelas yang berisi air separuh. Sekalipun obyeknya sama, tetapi setiap orang dapat melihatnya dari perspektif yang berbeda. Ada orang yang mengatakan bahwa gelas tersebut berisi air separuh, dan ada pula yang menyebut kosong separuh. Kedua pernyataan ini jelas benar semua, tetapi perspektifnya saja yang berbeda-beda. Orang yang mengatakan gelas itu berisi air separuh berangkat dari perspektif berpikir positif. Ia melihat bahwa di dalam gelas sudah berisi sesuatu yang positif, yakni air, meskipun baru separuh. Sementara, orang yang menyebut gelas itu kosong separuh berangkat dari perspektif berpikir negatif. Mengapa demikian? Sebab, apa yang dilihatnya adalah posisi ruang kosong dalam gelas atau sisi negatifnya.

Lepas dari hari itu, yang pasti, biasanya terdapat pendapat positif dan negatif dalam setiap ungkapan yang disampaikan seseorang. Seandainya seseorang itu mengemukakan empat buah pendapat, maka boleh jadi tiga di antaranya adalah pendapat positif, sedangkan yang satunya dianggap negatif. Dalam menyikapi hal ini, tentu masing-masing orang akan menggunakan perspektif yang berbeda-beda. Ada sebagian orang yang berkonsentrasi pada tiga pendapat positif dengan memuji dan memberikan dukungan. Ada juga yang justru berkonsentrasi pada satu pendapat yang dianggapnya negatif. Kecenderungan yang kedua ini biasanya berujung pada kritik dan celaan, sehingga akhirnya dapat memicu perdebatan. Menurut Ibrahim el-Fiky, mencela dan mengkritik merupakan buah dari berpikir negatif yang mengandung racun seperti bisa ular yang masuk dalam aliran darah dan kemudian mematikan.

1. Mencela

Di saat mencela seseorang, Anda pasti sedang dalam posisi mempertahankan diri. Reaksi orang yang sedang menerima celaan dari Anda pun bisa saja menjadi negatif. Celaan telah membuat seseorang merasa menjadi korban dan menjadi racun dalam dirinya, sehingga ia menjadi sangat sedih. Jika Anda mencela salah seorang sahabat yang datang terlambat dalam pertemuan yang telah ditentukan, ia akan merasa menjadi korban dari perlakuan Anda. Jika mencela seorang pimpinan maka ia pun akan merasa menjadi korban dan harga dirinya terusik. Jika mencela orang lain, berarti anda telah mengirim pesan ke akalnya dan memintanya untuk membuka file-file celaan yang tersimpan dalam memorinya agar digunakan untuk mencela anda. Anda berarti telah meminta file-file harga dirinya untuk bangkit. Orang yang suka mencela, ia juga akan menerima celaan. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan apabila celaan yang akan diterima bisa lebih “kejam” dari apa yang telah Anda sampaikan.

2. Mengkritik

Sebelum dielaborasi lebih lanjut, terdapat beberapa pertanyaan yang patut diajukan. Apakah Anda pernah dikritik di hadapan banyak orang? Bagaimanakah perasaan Anda ketika dikritik di hadapan banyak orang? Apakah Anda merasa senang, berbunga-bunga, tidak enak hati atau bahkan marah? Secara psikologis, tentu kebanyakan orang akan merasa tidak enak hati ketika mendapatkan kritikan. Boleh jadi, orang itu juga akan marah dan bahkan berusaha untuk membela diri. Oleh sebab itu, jika dengan terpaksa harus mengkritik, sampaikanlah dengan cara-cara yang baik. Mulailah dengan pernyataan-pernyataan positif tentang orang yang dikritik dan akhiri pula dengan sesuatu yang juga positif. Gagasan kritis Anda bisa diselipkan di tengah-tengah penyataan-pernyataan positif tersebut. Dengan demikian, orang yang Anda kritik tidak merasa kalau dirinya sedang dikritik.

Apabila tidak menggunakan cara-cara yang santun, kritikan sangat mungkin mengundang reaksi yang cukup keras. Dengan tanpa disadari, kritik juga dapat menyebabkan orang yang dikritik merasa sendirian dan tidak berguna. Oleh karena itu, kritik dapat berdampak negatif dan mengundang amarah. Jika ada yang suka mengkritik orang lain berarti ia sedang mengundang orang tersebut untuk mengkritiknya. Pada akhirnya, terjadilah saling kritik di antara keduanya. Pelan tetapi pasti, keduanya akan saling bertahan untuk saling “menjatuhkan”. Di saat situasi sudah “memanas”, keduanya tidak bisa dihindarkan untuk saling debat.

 

C. Anjuran Meninggalkan Debat

Melihat dampak debat mengandung mudharat yang cukup besar, Rasulullah s.a.w. menganjurkan kita untuk meninggalkannya. Hal ini tampak dalam beberapa hadits berikut:

 

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَى بِكَ إِثْمًا أَنْ لَا تَزَالَ مُخَاصِمًا

Artinya: Dari ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Engkau akan mendapatkan dosa selama engkau suka berdebat.”[1]

 

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ { بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ } الْآيَةَ

Artinya: Dari Abu Umamah, ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “tidak akan tersesat suatu kaum setelah petunjuk selama mereka masih tetap di atasnya, kecuali orang-orang yang senang berdebat.” Kemudian Beliau membaca ayat ini: “tetapi mereka itu adalah kaum yang senang berdebat.”[2]

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الْإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِي الْمُزَاحَةِ وَيَتْرُكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقًا

Artinya: Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “seorang hamba tidak dikatakan beriman dengan sepenuhnya hingga ia meninggalkan berbohong ketika sedang bergurau, dan meninggalkan berdebat meski ia benar.”[3]

D. Hikmah Meninggalkan Debat

Perlu dicatat bahwa orang yang senang berdebat akan menimbulkan dosa dan kesesatan. Kecenderungan orang yang suka berdebat adalah mengomentari setiap perkataan orang lain dari sisi lemah atau salahnya. Komentar tersebut biasanya berupa celaan dan kritik. Akibat dari komentarnya itu, orang yang berpendapat lalu berargumentasi untuk mempertahankan pendapatnya. Akhirnya, terjadilah perdebatan di antara keduanya. Pada umumnya, setiap perdebatan berakhir dengan keadaan yang tidak menyenangkan, terutama bagi mereka yang kalah.

Jika memang demikian, lantas bagaimanakah perasaan Anda di saat bergaul dengan orang-orang yang suka sekali membantah, mencela, mengkritik atau mengomentari setiap perkataan Anda? Apabila setiap perkataan selalu dibantah oleh orang lain, tentu perasaan Anda akan menjadi tidak enak. Bagaimana pun, orang yang suka sekali berbantahan akan menjauhkan silaturrahim. Padahal, orang yang beriman dituntut untuk senantiasa menjaga hubungan silaturrahim yang baik sahabat-sahabatnya. Oleh sebab itu, mereka pasti akan meninggalkan debat, meskipun dalam posisi benar.

Dalam bukunya yang berjudul “How to Win Friends and Influence People”, Dale Carnegie menyatakan bahwa Anda tidak bisa menang dalam sebuah debat. Sebab, jikalau kalah, Anda jelaslah kalah, tetapi jika menang, Anda juga kalah. Mengapa demikian? Apabila berhasil mematahkan semua argumentasi lawan bicara dengan telak, Anda tentu merasa menang. Tetapi bagaimana dengan lawan bicara Anda? Argumentasi yang telah mematahkan pendapat lawan bicara tentu akan menjadikannya merasa rendah, harga dirinya tercabik-cabik dan tentunya ia akan membenci kemenangan Anda. Oleh sebab itu, satu-satunya cara memperoleh manfaat sepenuhnya dari perdebatan adalah menghindarinya!

Apabila kita sadari bersama, tentu teori yang dikemukakan Rasulullah s.a.w. merupakan suatu hal yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak, jauh sebelum Dale Carnegie memproklamirkan teorinya, Rasulullah s.a.w. sudah mengemukakan teorinya yang terdapat dalam sebuah hadits berikut: “seorang hamba tidak dikatakan beriman sepenuhnya hingga meninggalkan berbohong ketika bergurau dan juga meninggalkan berdebat meskipun benar”. Berdasarkan hadits ini, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa salah satu di antara tanda-tanda keimanan seseorang adalah tidak suka berdebat. Oleh karena itu, di saat ada orang yang mencela pendapat kita, cukup dijawab dengan senyuman. Tidak perlu sampai ngotot untuk membela argumentasi kita, apalagi sampai balas mencela. Kita perlu toleran dan menghargai pendapat-pendapat yang disampaikan oleh para sahabat, sekalipun menurut persepsi kita hal tersebut keliru.

Bagaimana pun, orang yang beriman adalah mereka yang pandai melihat kelebihan dan kebaikan orang lain, pandai melihat kelemahan diri sendiri, dan kurang pandai dalam melihat kekurangan dan juga kesalahan orang lain. Ketika melihat keburukan sahabatnya, orang yang beriman cenderung berdo’a: “semoga Allah membimbingku agar selalu berbuat baik, mengampuni sahabatku, menutupi aibnya, dan menuntunnya berbuat baik”. Sedangkan bagi orang yang masih lemah imannya, biasanya mempunyai kemampuan yang tinggi dalam melihat kesalahan yang dilakukan orang lain. Selain itu juga suka mengomentari dan mengkritik atas kesalahan tersebut, sekalipun masih rendah dalam mengenali kesalahan diri sendiri. Pada umumnya, orang yang masih lemah imannya cenderung menilai keliru atas pernyataan orang lain, sementara pendapatnya dianggap sebagai yang paling benar.

Kedua tipe orang tersebut tentu saling memiliki karakter dan pandangan yang berbeda-beda, khususnya di saat menyikapi suatu persoalan yang sama. Perbedaan tersebut tentu saja bukan untuk dipertentangkan, tetapi justru dapat dijadikan sebagai ajang untuk mencari solusi yang tepat. Sikap tidak setuju terhadap suatu persoalan merupakan hal yang lumrah, sehingga tidak perlu diperdebatan. Terkait dengan hal ini, Dale Carnegie mengungkapkan beberapa saran untuk mencegah pernyataan tidak setuju agar tidak menimbulkan perdebatan, yaitu:

  1. Sambut baik ketidaksetujuan itu. Mungkin ketidaksetujuan itu merupakan kesempatan untuk mengoreksi pendapat Anda, sebelum membuat kesalahan yang serius.
  2. Jangan pernah percaya pada kesan pertama naluri Anda. Reaksi alami yang pertama dalam sebuah situasi yang tidak mengenakkan adalah mempertahankan diri. Hati-hati dan tenanglah, perhatikan reaksi pertama Anda. Mungkin itu merupakan bagian Anda yang terburuk.
  3. Kendalikan kemarahan Anda. Anda bisa menilai kebesaran seseorang melalui hal-hal yang membuatnya marah.
  4. Dengarkan dulu, beri kesempatan lawan Anda berbicara dan biarkan sampai selesai. Jangan menolak, mempertahankan diri atau bahkan berdebat karena akan mempertinggi penghalang. Berusahalah sebisa mungkin membangun jembatan pengertian.
  5. Cari bidang-bidang kesepakatan. Jika selesai mendengarkan perkataan lawan Anda, pikirkan dulu hal-hal yang Anda setujui.
  6. Jujurlah, carilah wilayah-wilayah di mana Anda bisa menerima kesalahan dan sampaikan. Minta maaflah atas kesalahan Anda. Hal ini akan membantu “melucuti senjata” lawan dan mengurangi sifat defensifnya.
  7. Berjanjilah untuk memikirkan ide-ide lawan Anda dan pelajarilah dengan seksama. Boleh jadi, ide-ide lawan Anda mungkin benar. Pada tahap ini, akan jauh lebih mudah untuk memikirkan pandangan-pandangan mereka dibanding terus-menerus mempertahankan pendapat Anda, sehingga pihak lawan akan mengatakan: “kami sudah berusaha menyampaikan kepada anda, tetapi anda tidak mau mendengarkan”.
  8. Berterimakasihlah pada lawan Anda dengan tulus akan minat-minat mereka. Siapapun yang meluangkan waktu untuk menyatakan tidak setuju dengan Anda, berarti ia berminat dalam hal-hal yang sama. Pikirkan mereka sebagai orang-orang yang benar-benar ingin menolong Anda, sehingga boleh jadi mereka akan menjadi kawan bagi Anda.
  9. Jangan terburu-buru dalam bertindak dan berilah waktu kepada kedua belah pihak untuk memikirkan masalahnya. Sarankan agar pertemuan berikutnya dilangsungkan ketika semua fakta memungkinkan untuk bisa dibawa. Dalam mempersiapkan pertemuan tersebut, ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk diri sendiri. Munginkah semua atau bahkan sebagian dari pendapat mereka itu benar? Adakah keberatan dalam posisi atau argumentasi mereka? Lantas, apa reaksi saya, akan menyelesaikan masalah atau hanya menghasilkan frustasi? Saya akan membuat mereka jadi menjauh atau bahkan bisa menariknya lebih dekat? Apabila saya diam saja, apakah rasa tidak setuju itu akan meledak? Apakah situasi sulit ini merupakan kesempatan bagi saya?

 

Kesembilan saran yang dikemukakan oleh Dale Carnegie tersebut merupakan cara-cara yang dipandang efektif dalam mencegah perdebatan. Dalam saran-saran tersebut tergambar betapa Carnegie mengedepankan win-win solution, sehingga perdebatan jadi terhindarkan. Sebagai penutup tulisan ini, marilah kita renungkan hadits Rasulullah s.a.w. sebagai berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَهُوَ بَاطِلٌ بُنِيَ لَهُ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ فِي وَسَطِهَا وَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ بُنِيَ لَهُ فِي أَعْلَاهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ حَسَنٌ

Artinya: Dari Anas bin Malik, ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan berbohong (dan berbohong pada waktu itu sesuatu yang tidak dibenarkan) maka akan dibangunkan untuknya rumah di sekitar surga, barangsiapa yang meninggalkan perdebatan (sedang dia orang yang berhak untuk berdebat) maka akan dibangunkan untuknya rumah di tengah surga, dan barangsiapa yang memperbagus akhlaknya maka akan dibangunkan rumah untuknya di bagian yang paling atas.”

 

Hadits tersebut tergolong dalam hadits hasan. Karena itu, sekali lagi, marilah kita tinggalkan sifat suka berdebat!

Bantul, 16 September 2012

Agus Sukaca

[1] Kitab Tirmidzi HN 1917

[2] Kitab Ibnu Majah HN 47

[3] Kitab Ahmad HN 8276

banner 468x60