banner 728x90

Membiasakan Mengaji

MaghribMengaji -hidayatullahdotcom

Salam Tabligh #10

 

Pembaca yang budiman!

Tantangan dakwah Islam pada awal masa kenabian amatlah luar biasa berat. Apabila mendengar seseorang dari ka­langan terpandang masuk Islam, Abu Ja­hal dan kawan-kawannya akan mempe­ringatkan, menakut-nakuti, menjanjikan sejumlah uang dan kedudukan. Namun apabila yang masuk Islam itu berasal dari kalangan orang biasa, mereka akan me­lancarkan pukulan dan siksaan.

Di antara para sahabat yang meng­alami siksaan adalah paman Usman bin Affan, Mush’ab bin Umair, Bilal dan Ammar bin Yasir. Paman Usman bin Affan pernah diselubungi tikar dari daun kurma dan diasapi dari bawahnya.

Ketika ibunya Mush­’ab bin Umair tahu anaknya masuk Islam, maka ia tidak memberinya makan dan mengusirnya dari rumah. Padahal anaknya itu biasa hidup enak sehingga kulitnya mengelupas seperti ular yang berganti kulit.

Bilal, yang pada saat itu men­ja­di budak Umayyah bin Khalaf, pernah dikalungi tali di lehernya dan kemudian diserahkan kepada anak-anak kecil untuk dibawa berlari-lari di sebuah bukit di Mak­kah. Hal ini menjadikan leher Bilal mem­bilur karena bekas jeratan tali. Setelah itu, Bilal disuruh duduk di bawah terik matahari dan dibiarkan kelaparan.

Penyiksaan paling keras yang dialami Bilal adalah ketika ia ditelentangkan di padang pasir saat terik matahari. Saat itu, Umay­yah meletakkan batu besar di atas dada Bilal sambil berkata: “Tidak demi Allah, kamu tetap seperti ini hingga mati atau kamu mengingkari Muham­mad serta menyembah Latta dan Uzza“. Bilal tetap teguh memilih Islam dan hanya mampu berkata: “ahad…ahad…” Apa yang sedang dialami Bilal itu terlihat oleh Abu Bakar yang kemudian membe­linya dengan harga tinggi dan memer­dekakannya.

Ammar bin Yasir adalah budak Bani Makhzum yang masuk Islam bersama ibu dan bapaknya. Orang-orang musyrik yang di­pimpin Abu Jahal menyeret mereka ke pa­dang pasir yang panas dan me­nyik­­sa­nya. Se­lagi mereka disiksa, Rasulullah lewat dan kemudian bersabda: “Sabarlah wahai ke­lu­arga Yasir! Sesungguhnya tempat yang sudah dijanjikan bagi ka­lian ada­lah surga“.

Yasir, ayah Ammar, meninggal dunia dalam penyiksaan itu. Ibunya, Su­mayyah, juga meninggal karena ditikam Abu Jahal dengan tombak. Sementara Am­mar masih bertahan hidup dengan pe­nyiksaan yang menyakitkan. Sebuah batu panas diletak­kan di atas dada Ammar, dan sebagian tubuhnya dibenamkan di pasir yang panas membara. Mereka menga­takan: “Kami tidak akan membiarkanmu kecuali kamu mau mencaci Muhammad dan mengatakan hal-hal yang baik ten­tang Lata dan Uzza“.

Karena pende­ritaan yang sangat berat, Ammar terpaksa memenuhi permintaan mereka hingga dilepaskan. Setelah itu, ia menemui Nabi SAW sambil menangis dan meminta am­pun. Kemudian turunlah ayat mengenai dirinya:

مَن ڪَفَرَ بِٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ إِيمَـٰنِهِۦۤ إِلَّا مَنۡ أُڪۡرِهَ وَقَلۡبُهُ ۥ مُطۡمَٮِٕنُّۢ بِٱلۡإِيمَـٰنِ وَلَـٰكِن مَّن شَرَحَ بِٱلۡكُفۡرِ صَدۡرً۬ا فَعَلَيۡهِمۡ غَضَبٌ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬ -١٠٦-

Barangsiapa yang kafir ke­pa­da Allah, sesudah ia beriman (ia men­­dapat kemurkaan Allah), kecuali yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap beriman (ia tidak berdosa) [Q.s. an-Nahl: 106].

Selain beberapa nama di atas, tentu masih ada banyak lagi orang-orang yang masuk Islam dan mendapatkan siksaan luar biasa. Abu Fakihah, budak bani Abdid-Dar, Khabbab bin al-Arrat, budak Ummu Ammar binti Siba’ al-Khuza’iyah dan yang lainnya me­ru­pakan nama-nama orang yang masuk Islam dan telah mendapat siksaan dan te­kanan berat. Menghadapi tekanan-te­kanan itu, Rasulullah kemudian mengambil langkah bijaksana. Beliau melarang me­reka yang masuk Islam menampakkan ke-Islamannya, baik berupa perkataan mau­pun perbuatan.

Beliau menemui mereka dengan cara sembunyi-sembunyi untuk mengajarkan Islam. Beliau menjadikan rumah al-Arqam bin Abil-Arqam al-Makhzumy yang berada di atas bukit Shafa dan terpencil sehingga terhindar dari mata-mata Quraisy sebagai markas tempat pertemuan. Di situlah Be­liau menyelenggarakan pengajian untuk me­ngajarkan Islam dan membina para sa­habat dengan sangat baik. Para sahabat saat itu mengaji langsung kepada Ra­sulullah, sehingga mereka memahami ajaran Islam dengan baik dan istiqamah. Pada akhirnya, semangat mereka dalam menjalankan ajaran Islam dan mendak­wahkannya pun sangat luar biasa.

***

Kini, tantangan ber-Islam tidak ka­lah berat jika dibandingkan pada jaman Rasulullah. Banyak orang yang meng­ha­lang-halangi Islam diamalkan pada se­mua aspeknya. Ajaran-ajaran yang me­nyang­kut masalah individu biasanya tidak terlalu dipersoalkan. Tetapi, ajaran yang me­nyang­kut aspek sosial dan politik banyak orang tidak suka. Ujung-ujungnya, peng­amal Islam kaffah banyak dimusuhi.

Terkait dengan itu, Allah meng­ingatkan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha hingga umat Islam meng­ikuti millah mereka. Cara yang biasanya dila­kukan adalah mengajak umat Islam men­ja­di pemeluk agama mereka, atau tetap beragama Islam tetapi pola pikir dan gaya hidupnya mengikuti mereka. Cara yang ke­dua rupanya lebih berhasil. Banyak dijum­pai umat Islam yang mengikuti pola mereka dalam kehidupan ekonomi, sosial dan politik serta meninggalkan millah Islam. Berbagai cara dan tipu daya mere­ka lakukan, mulai cara-cara halus seperti iming-iming harta dan pangkat, sampai dengan cara yang kasar dan kejam seperti ancaman dan peperangan.

Orang-orang yang memusuhi Islam akan tetap ada sampai hari kiamat nanti. Tetapi kita tidak perlu khawatir! Sepanjang kita tetap istiqamah dalam ber-Islam se­su­ai al-Qur’an dan as-Sunnah al-maq­bullah, segala macam tipu daya akan da­pat diatasi dengan baik. Sudah menjadi sunnatullah, apabila di dunia ini ada baik dan buruk, ada mukmin dan kafir, ada kawan dan musuh. Kesemuanya menjadi bagian dari proses pengujian bagi umat manusia, apakah mereka menjadi pe­cundang atau sukses dalam melaluinya.

Para sahabat memberikan contoh langsung dibawah bimbingan Rasulullah SAW. Pada masa-masa sulit, penuh an­caman dan marabahaya, mereka mengaji secara rutin di darul Arqam, sebagaimana dijelaskan di atas. Meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi, mereka tetap hadir dalam “Majelis Pengajian” untuk menda­patkan pengajaran dan bimbingan tentang bagaimana seharusnya ber-Islam lang­sung dari Rasulullah. Pada sa­at keadaan mem­ba­ik dan umat Islam mulai kuat, para sahabat tetap sering berada di dalam majelis bersama Ra­sulullah untuk mengaji. Hasilnya, mereka menjadi generasi terbaik sepanjang jaman.

Kini, Rasulullah SAW sudah tidak ber­ada di tengah-tengah kita. Meski demikian, Beliau telah meninggalkan dua hal penting yang dapat menghindarkan dari kesesatan, yakni al-Qur’an dan Sun­nah Rasul-Nya. Berpegang teguh ke­pada keduanya akan membawa kita men­jadi umat terbaik di muka bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنڪَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ‌ۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡڪِتَـٰبِ لَكَانَ خَيۡرً۬ا لَّهُم‌ۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَڪۡثَرُهُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ -١١٠-

Kamu sekalian adalah umat terbaik yang dila­hirkan untuk manusia, menyuruh ke­pada yang ma’ruf, men­cegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” [Q.s. ali-Imran: 110].

Oleh sebab itu, apa yang harus kita lakukan adalah mempelajari, memahami dan mengamalkan al-Qur’an dan as-Sun­nah dalam kehidupan sehari-hari. Sema­ngat mempelajari keduanya hendaknya dimotivasi untuk memahami dan meng­amalkannya. Kita dapat belajar sendiri atau mengikuti Majelis Ta’lim dalam pengajian.

 

Perintah Mengaji

Dalam sebuah hadits, Nabi SAW ber­sabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda,”Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, curahan rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di sisi-Nya.” (HR Muslim)

Pengajian dikenal juga sebagai Majelis Taklim. Pengajian merupakan suatu ma­jelis dimana orang-orang biasa berkumpul untuk belajar agama Islam kepada seorang guru atau ustadz. Di Indonesia, pengajian telah tumbuh dan berkembang menjadi media pendidikan non formal dalam pem­be­lajaran Islam yang memiliki peranan cukup besar dalam pemahaman dan peng­amalan Islam. Lokasi yang ba­nyak menye­lenggarakan pengajian biasa­nya dikenal sebagai daerah santri. Orang-orang yang tinggal di daerah itu umumnya taat pada ajaran Islam. Hal ini wajar, mengingat reli­gi­usitas sese­orang biasanya terkait de­ngan kese­nangannya mengikuti pengajian. Maka, semakin gemar mengaji, semakin tinggi kesalehan seseorang.

 

Fungsi Pengajian

Selain sebagai media pembe­lajaran Islam, pengajian juga bisa berfungsi sebagai wahana pembinaan kehidupan berjamaah dan juga pendukung atmosfer kehidupan Islami. Fungsi sebagai media pembelajaran didapatkan melalui proses taklim yang selalu ada dalam setiap ke-giatan pengajian. Suatu pengajian dapat dikatakan baik apabila dilakukan secara berkala (rutin). Materi-materinya juga telah disusun menyerupai kurikulum dan silabus pada pendidikan formal. Dengan demikian, peserta yang rutin mengikuti pengajian akan mendapatkan pemahaman ajaran Islam, sebagaimana direncanakan dalam kurikulum atau silabus.

Fungsi pengajian sebagai media pem­binaan jamaah terjadi melalui proses ber­kumpulnya peserta secara rutin. De­ngan seringnya peserta pengajian bertemu akan membentuk hubungan silaturrahim yang semakin kuat. Kuatnya hubungan ini akhir­nya akan membentuk suatu jamaah atau komunitas pengajian yang secara kontinu dapat dila­kukan pembinaan. Sedangkan, fungsi pengajian sebagai pendukung at­mosfer kehidupan Islami terjadi melalui kegiatan itu sendiri dan hasil interaksi sesama peserta. Orang yang senang me­ngaji adalah orang yang bersemangat membangun kesalehan diri. Semangat jamaah pengajian adalah semangat menuju ke-salehan. Dengan demikian, maka atmosfer yang melingkupi pengajian adalah atmosfer kesalehan.

Seseorang yang sering berada dalam jamaah pengajian akan mendapatkan atmosfer kesalehan. Atmosfer ini akan mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Karena itu, ia akan merasa nya­man seba­gai pribadi yang saleh sebagaimana atmosfer yang meling­kupinya. Kebiasaan seseorang mengaji akan semakin dapat memahami Islam, mendapatkan jamaah yang terdiri dari orang-orang yang berge­rak menuju kesalehan dan atmosfer kesa­lehan yang dapat menuntunnya menjadi Pribadi Muslim yang sebenar-benarnya.

 

Tempat Pengajian

Pengajian dapat diselenggarakan di mana saja dan pada tempat-tempat yang baik, seperti masjid, gedung pertemuan, gedung sekolah/perguruan tinggi, rumah tinggal, dan lain-lain. Semua tempat tersebut baik, dan memiliki keistimewaan sendiri-sendiri.

Masjid adalah tempat utama untuk pengajian. Keuntungan yang dapat dipetik adalah sambil membiasakan shalat jamaah di masjid; menjadi salah satu usaha me­makmurkan masjid; membiasakan hati umat terikat dengan masjid. Seseorang yang hatinya terikat dengan masjid men­jadi salah satu golongan yang dilindungi Allah di hari kiamat nanti.

Gedung pertemuan adalah tempat yang baik untuk pengajian. Sebab, gedung yang dikhususkan untuk pertemuan biasanya telah ditata (dirancang) sedemikian rupa sehingga nyaman digunakan. Pengajian di gedung-gedung pertemuan akan menam­bah semaraknya syi’ar Islam.

Gedung sekolah/perguruan tinggi juga merupakan tempat yang baik untuk pe­ngajian. Jamaah pengajian ini biasanya terdiri dari para civitas akademika di seko­lah/perguruan tinggi terkait. Namun demi­kian, lebih baik lagi apabila gedung tersebut juga dimanfaatkan untuk pengajian ma­syarakat sekitar, sehingga keberadaan sekolah/perguruan tinggi lebih menyatu dengan masyarakat.

Rumah tinggal adalah tempat yang tidak kalah baiknya untuk pengajian. Rasulullah telah memberi contoh dengan menjadikan rumah al-Arqam bin Abil Arqam sebagai tempat pengajian yang saat itu diselenggarakan secara sembunyi-sembunyi ketika umat Islam masih dalam kondisi lemah. Untuk itu, rumah tinggal bagus untuk pengajian jamaah-jamaah kecil yang tinggal di sekitarnya. Semakin banyak pengajian semakin baik. Semakin banyak tempat digunakan untuk pengajian juga semakin baik. Mari mengaji dan mengajak orang mengaji!

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Agus Sukaca

banner 468x60