banner 728x90

Keutamaan Shalat Dhuha

Shalat-Dhuha-rumahYatim

Shalat Dhuha dituntunkan Rasulullah SAW. berdasarkan beberapa hadits maqbullah (dapat diterima kebenarannya), baik yang bersifat fi’liyyah (perbuatan Beliau) maupun qauliyyah (ucapan Beliau). Karenanya, jumhur (mayoritas) ulama memasukkan shalat dhuha sebagai salah satu di antara shalat-shalat tathawwu’. Umat Islam dianjurkan agar gemar dan membiasakan diri melaksanakannya. Bahkan, para ulama Maliki dan Syafi’i telah memasukkannya ke dalam deretan shalat-shalat yang sangat dianjurkan (sunnah muakkad) untuk dilakukan oleh setiap muslim.

Hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW. pernah melakukan shalat dhuha (hadits fi’liyyah) adalah sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ummu Hani’. Menurut Syaikh al-Bani, hadits ini adalah hadits shahih li ghairih.

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتِي ، فَصَلَّى الضُّحَى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ رواه ابن حِبَّان قال الشيخ الألباني: صحيح لغيره

Rasulullah SAW. masuk ke dalam rumahku, lalu Beliau mengerjakan shalat Dhuha 8 raka’at” (HR. Ibn Hibban).

Hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW. pernah memerintahkan umat-Nya agar melakukan shalat dhuha adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ أَوْصَانِى خَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- بِثَلاَثٍ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ –  رواه مسلم

Dari Abu Hurairah berkata, “Nabi s.a.w. kekasihku telah memberikan tiga wasiat kepadaku, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua raka’at dhuha dan mengerjakan shalat witir terlebih dahulu sebelum tidur” (HR. Muslim).

Nama Lain Shalat Dhuha

Shalat ini dinamakan shalat dhuha dikarenakan dikerjakan di waktu dhuha. Selain itu, shalat dhuha juga disebut sebagai shalat Awwabin yang berarti shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah. Rasulullah SAW. bersabda dalam hadits, yang menurut Syaikh al-Bani termasuk hadits hasan, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ. قَالَ : وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ. رواه ابن خُزَيمة والحاكم.قال الشيخ الألباني : حسن

Tidak ada yang memelihara shalat dhuha kecuali orang yang kembali kepada Allah. Beliau bersabda: “Dia adalah Shalat Awwabin (shalat orang-orang yang kembali kepada Allah)” (HR. Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW. menyebutkan shalat dhuha dengan istilah shalat Isyraq. Sebutan ini diberikan karena shalat dhuha dikerjakan mengiringi terbitnya matahari. Hal ini dapat dilihat dalam riwayat yang dituturkan oleh Ummu Hani’ berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا، فَدَعَا بِوَضُوءٍ فِي جَفْنَةٍ، فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَثَرِ الْعَجِينِ فِيهَا، فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى الضُّحَى، فَقَالَ:يَا أُمَّ هَانِئٍ، هَذِهِ صَلاةُ الإِشْرَاقِ أخرجه الطبرانى قال الهيثمى : فيه حجاج بن نصير ضعفه ابن المدينى وجماعة ووثقه ابن معين وابن حبان.

Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah masuk ke dalam rumah Ummu Hani’ lalu minta air wudlu dalam bejana dan seolah-olah aku melihat adonan roti di dalamnya, lalu Beliau berwudlu kemudian mengerjakan shalat dhuha. Lalu Beliau bersabda: “Wahai Ummu Hani’ ini adalah shalat Isyraq

Hadits tersebut diriwayatkan oleh at-Tabrani. Al-Haitsami menuturkan jika di dalamnya terdapat seorang perawi bernama Hajaj bin Nashir. Menurut Ibnu al-Madini dan sekelompok ulama, dia orang yang lemah (dalam meriwayatkan hadits), namun menurut Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban dia orang yang kuat.

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah SAW. menyebutkan shalat dhuha dengan istilah shalat Raghbah wa Rahbah (harap dan cemas), yakni shalat yang dikerjakan untuk mengharap pertolongan Allah dan mengungkapkan kecemasan akan adzab-Nya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ صَلَّى سُبْحَةَ الضُّحَى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ : إِنِّي صَلَّيْتُ صَلاَةَ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ ، فَسَأَلْتُ رَبِّي ثَلاَثًا فَأَعْطَانِي اثْنَتَيْنِ ، وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً ، سَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَقْتُلَ أُمَّتِي بِالسِّنِينَ فَفَعَلَ ، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُظْهِرَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا فَفَعَلَ ، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَلْبِسَهُمْ شِيَعًا فَأَبَى عَلَيَّ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ : أَنْ لاَ يَبْتَلِيَ أُمَّتِي بِالسِّنِينَ. رواه أحمد

Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: saya melihat Rasulullah SAW. mengerjakan shalat sunnah dhuha delapan raka’at saat safar, dan ketika selesai Beliau s.a.w. bersabda: “Saya shalat dengan diliputi perasaan harap dan cemas (Raghbah wa Rahbah), saya memohon kepada Rabku tiga hal namun Dia hanya memberiku dua dan menahan satu, saya memohon kepada-Nya agar tidak menguji hambaku dengan kekeringan yang panjang dan Dia mengabulkan, dan saya memohon kepada-Nya agar musuh tidak menang atas umatku dan Dia mengabulkan, dan saya memohon kepada-Nya agar tidak membuat mereka berpecah-belah, namun Dia enggan mengabulkan” (HR. Ahmad).

 

Keutamaan Shalat Dhuha

Sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW. dalam beberapa sabda-Nya, shalat dhuha memiliki beberapa keutamaan yang sebagiannya tidak terdapat pada shalat-shalat tathawu’ lainnya. Oleh karenanya, sungguh beruntunglah bagi orang-orang yang membiasakan diri melaksanakan shalat dhuha. Hal ini tidak lain disebabkan karena terdapat beberapa keutamaan dalam mengerjakan shalat dhuha, di antaranya adalah:

  1. Dapat menggantikan nilai shadaqah yang dilakukan oleh seluruh sendi-sendi manusia yang berjumlah 360 sendi dan yang diucapkan oleh lisannya yang berupa kalimat-kalimat thayyibah.
عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى » أخرجه مسلم

Dari Abu Dzar bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab setiap kali bacaan tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan laa ilaa ha illallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu maka cukuplah mengerjakan dua raka’at shalat dhuha”(HR. Muslim).

عَنْ أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ ». قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ ». رواه ابن خُزَيمة وابن حِبَّان. قال الشيخ الألباني: وإسناده صحيح على شرط مسلم

“Dari Abu Buraidah, ia mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk tiap ruas tulang tersebut.” Para sahabat bertanya, “siapakah yang mampu melaksanakan seperti itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dahak yang ada di masjid, lalu engkau pendam ke tanah dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan, maka itu berarti sebuah sedekah. Akan tetapi, jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua raka’at shalat dhuha” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban). Syaikh al-Bani berkata bahwa Sanad hadits ini shahih, menurut syarat Muslim.

Imam an-Nawawi mengatakan: hadits dari Abu Dzar di atas menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari shalat dhuha dan menunjukkan kedudukannya yang mulia”. Sedangkan, asy-Syaukani mengatakan: “hadits Abu Dzar dan hadits Buraidah menunjukkan keutamaan yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari shalat dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan semakin disyari’atkannya shalat tersebut. Mengerjakan dua raka’at shalat dhuha sudah mencukupi sedekah dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah sepantasnyalah shalat ini dapat dikerjakan secara rutin dan terus menerus”.

  1. Allah akan memberikan kecukupan kepada manusia terhadap apa yang dibutuhkannya, baik berupa terpelihara dari gangguan syaitan, memperoleh rizki yang halal dan terhindar dari perkara-perkara yang buruk.
عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِى مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ ». رواه ابن حِبَّان والنَّسائي وأبو داود وأحمد.
قال الشيخ الألباني : صحيح

Dari Abu Darda’ dan Abu Dzar, diriwayatkan dari Rasulullah SAW, Beliau bersabda dalam hadits Qudsi: Allah SWT. berfirman: “Wahai anak Adam, kerjakan empat raka’at shalat dhuha di awal siang hari karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya” (HR. Ibnu Hibban, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad). Menurut Syaikh al-Bani, hadits ini termasuk hadits shahih.

Menurut pendapat penulis kitab “Aunul Ma’bud”, al-‘Azhim Abadi, hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat dhuha akan menyelamatkan pelakunya dari pelbagai hal yang membahayakan. Selain itu, bisa juga dimaksudkan bahwa shalat dhuha dapat menjaga diri (pelakunya) agar tidak terjerumus dalam dosa, atau pun akan dimaafkan apabila terjerumus di dalamnya, atau maknanya bisa lebih luas dari itu.

  1. Allah akan memberikan pahala (pelakunya) senilai pahala umrah.
عَنْ أَبِى أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلاَةٌ عَلَى أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ ». رواه أبو داود. قال الشيخ الألباني : حسن

Dari Abu Umamah r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda:Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang haji yang sedang ihram, dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat dhuha, dan dia tidak mempunyai niat kecuali itu, maka pahalanya seperti orang yang sedang umrah. Dan menunggu shalat hingga datang waktu shalat yang lain yang tidak ada main-main di antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘Iliyyin” (HR. Abu Dawud). Menurut Syaikh al-Bani, hadits ini termasuk hadits hasan.

  1. Allah akan memberikan pahala senilai pahala haji dan umrah bagi orang yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di masjid, dan ia tetap duduk di tempatnya untuk berdzikir hingga matahari terbit, lalu shalat dhuha 2 raka’at.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ ».رواه الترمذي وقال حديث حسن غريب قال الشيخ الألباني : حسن

Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi SAW. bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat fajar (subuh) berjama’ah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu shalat dua raka’at (dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna” (HR. at-Turmudzi). Dia berkata: hadits hasan gharib, sedangkan as-Syaikh al-Bani berkata: hadits hasan.

Dalam riwayat lain, Allah SWT. akan memberikan anugerah melebihi harta rampasan perang. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثًا فَأَعْظَمُوا الْغَنِيمَةَ وَأَسْرَعُوا الْكَرَّةَ ، فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا رَأَيْنَا بَعْثَ قَوْمٍ أَسْرَعَ كَرَّةً ، وَلاَ أَعْظَمَ غَنِيمَةً ، مِنْ هَذَا الْبَعْثِ ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَسْرَعَ كَرَّةً وَأَعْظَمَ غَنِيمَةً مِنْ هَذَا الْبَعْثِ ؟ رَجُلٌ تَوَضَّأَ فِي بَيْتِهِ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ، ثُمَّ تَحَمَّلَ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَصَلَّى فِيهِ الْغَدَاةَ ، ثُمَّ عَقَّبَ بِصَلاَةِ الضُّحَى ، فَقَدْ أَسْرَعَ الْكَرَّةَ ، وَأَعْظَمَ الْغَنِيمَةَ. رواه ابن حبان. قال الشيخ الألباني :صحيح

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW. mengirim sebuah pasukan perang dan mereka memperoleh harta rampasan (ghanimah) besar dan mempercepat penyerangan!”. Seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, kami belum pernah melihat utusan yang lebih cepat penyerangannya dan lebih besar membawa rampasan melebihi utusan-Mu ini. Lalu Rasulullah berkata: “Maukah kalian aku tunjukkan akan penyerangan yang lebih cepat dan paling banyak ghanimah (keuntungan)-nya dari pada pasukan ini?” Yaitu orang yang berwudlu di rumahnya dan memperbaiki wudlunya, kemudian masuk ke dalam masjid lalu mengerjakan shalat shubuh dan diakhiri dengan shalat dhuha. Maka dialah yang lebih cepat penyerangannya dan lebih besar harta rampasannya (keuntungannya)” (HR. Ibnu Hibban). As-Syaikh al-Bani berkata bahwa hadits ini adalah hadits shahih.

  1. Dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengharapkan pertolongan Allah dan mengungkapkan kekhawatiran turunnya adzab dari-Nya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ صَلَّى سُبْحَةَ الضُّحَى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ : إِنِّي صَلَّيْتُ صَلاَةَ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ ، فَسَأَلْتُ رَبِّي ثَلاَثًا فَأَعْطَانِي اثْنَتَيْنِ ، وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً ، سَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَقْتُلَ أُمَّتِي بِالسِّنِينَ فَفَعَلَ ، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُظْهِرَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا فَفَعَلَ ، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَلْبِسَهُمْ شِيَعًا فَأَبَى . رواه احمد

Dari Anas bin Malik r.a. berkata: saya melihat Rasulullah SAW. mengerjakan shalat sunnah dhuha delapan rakaat saat safar, dan ketika selesai Beliau bersabda: Saya shalat dengan dinaungi perasaan senang dan takut, saya memohon kepada Rabku tiga hal, namun Dia hanya memberiku dua dan menahan satu, saya memohon kepada-Nya agar tidak menguji hambaku dengan kekeringan yang panjang dan Dia mengabulkan, dan saya memohon kepada-Nya agar musuh tidak menang atas umatku dan Dia mengabulkan, dan saya memohon kepada-Nya agar tidak membuat mereka berpecahbelah namun Dia enggan mengabulkan” (HR. Ahmad).

  1. Allah SWT akan membangunkan rumah di Surga bagi orang-orang yang melaksanakan shalat dhuha 4 raka’at dan shalat rawatib qabliyyah dzuhur 4 raka’at.
عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعًا، وَقَبْلَ الأُولَى أَرْبَعًا بنيَ لَهُ بِهَا بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ”رواه الطبراني. قال الشيخ الألباني – حسن

Dari Abu Musa, ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: Barangsiapa mengerjakan shalat dhuha 4 raka’at dan sebelum dzuhur 4 raka’at, niscaya dibangunkan baginya rumah di Surga” (HR. at-Tabrani). Syaikh al-Bani menyebut hadits ini adalah hadits hasan.

 

Narasumber utama artikel ini:

Zaini Munir Fadloli

banner 468x60