banner 728x90

Istiqamah; Anjuran dan Hikmah

jalan lurus tengah laut

 

Istiqamah berasal dari kata istiqaama-yastaqiimu, yang berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Dalam terminologi akhlak, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman, sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seseorang yang istiqamah laksana batu karang di tengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikit pun walau dipukul oleh gelombang yang bergulung-gulung.

 

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat yang bernama Sufyan ibn ‘Abdillah meminta kepada Rasulullah SAW supaya mengajarkan kepadanya intisari ajaran Islam dalam sebuah kalimat yang singkat, padat dan menyeluruh. Dengan demikian, dia tidak perlu lagi menanyakan hal tersebut kepada siapa pun pada masa yang akan datang. Memenuhi permintaan sahabat tersebut, Rasulullah SAW bersabda: “katakanlah: saya beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah!” [HR. Muslim].

Iman yang sempurna adalah iman yang mencakup tiga dimensi, yaitu hati, lisan dan amal perbuatan. Seorang yang beriman haruslah istiqamah dalam ketiga dimensi tersebut. Dia akan selalu menjaga kesucian hatinya, kebenaran perkataannya, dan kesesuaian perbuatannya dengan ajaran Islam. Ibarat berjalan, seorang yang istiqamah akan selalu mengikuti jalan yang lurus, jalan yang paling cepat mengantarkannya ke tujuan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan ad-Darami dari Ibn Mas’ud r.a., diterangkan bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari membuat satu garis lurus di hadapan beberapa sahabat. Kemudian Beliau membuat pula garis melintang-lintang di kanan-kiri garis lurus tersebut. Sambil menunjuk garis lurus, Beliau berkata: “inilah jalan Allah”. Kemudian Beliau menunjuk pada garis-garis yang banyak yang ada di kiri-kanan garis lurus itu, dan berkata: “inilah jalan-jalan bersimpang, pada setiap jalan itu ada setan yang selalu menggoda.” Setelah itu, Beliau membacakan ayat al-Qur’an yang berbunyi:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” [Q.s. al-An’aam (6): 153].

 

Jalan lurus yang dimaksud oleh ayat di atas adalah agama Allah, Islam. Al-Qur’an menyebut agama Allah dengan agama yang lurus. Hal ini sebagaimana disebut dalam Q.s. al-Bayyinah ayat 5 berikut:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus [Q.s. al-Bayyinah (98): 5].

  

Ujian Keimanan

Sikap istiqamah sangatlah diperlukan orang yang beriman. Hal ini antara lain karena orang beriman pasti akan mengalami berbagai ujian. Dengan ujian itu, Allah bisa melihat kualitas keimanan seseorang. Oleh sebab itu, orang yang istiqamah tentu akan berhasil menghadapi ujian-ujian. Di dalam al-Qur’an dijelaskan:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُون

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan ‘kami telah beriman sedang mereka tidak diuji lagi?” [Q.s. al-‘Ankabuut (29): 2].

Ujian keimanan seseorang bisa dalam bentuk menyenangkan, dan begitu pula sebaliknya. Keberhasilan bisnis adalah ujian, demikian halnya dengan kebangkrutannya. Seorang mukmin yang istiqamah akan tetap teguh dengan keimanannya menghadapi dua macam ujian tersebut. Dia tidak mundur oleh ancaman, siksaan dan segala macam hambatan lainnya. Dia tidak terbujuk oleh harta, pangkat, kemegahan, pujian dan segala macam kesenangan semu lainnya. Itulah yang dipesankan oleh Rasulullah SAW kepada Sufyan di atas, “beriman dan beristiqamah”.

Rasulullah SAW merupakan contoh teladan utama dalam istiqamah. Baik dengan siksaan, ancaman, dan celaan maupun dengan bujukan, beliau tidak bergser sedikit pun dari jalan Allah. Terhadap bujukan pemuka Quraisy misalnya, Nabi menjawab dengan tegas: “Paman, demi Allah, kalau pun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan maksud supaya Aku meninggalkan tugas dakwah ini, sungguh tidak akan Aku tinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu ada di tanganku, atau Aku binasa karenanya.”

Keteguhan hati itu pulalah yang diperlihatkan oleh Bilal ibn Rabbah tatkala disiksa oleh majikannya. Tidak sedikit pun imannya goyah. Ketika disiksa dengan diletakkan sebongkah batu besar di atas dadanya, dia berbisik: “ahad, ahad” dengan penuh keyakinan. Yasser dan Sumayyah, sepasang suami istri syuhada awal Islam, juga rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan keimanannya.

 

Perintah Istiqamah  

Istiqamah merupakan salah satu akhlak yang sangat penting dimiliki oleh seorang beriman. Untuk itu Allah SWT memerintahkan agar seorang mukmin beristiqamah. Terkait dengan hal ini, Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka istiqamahlah menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menyekutukan-Nya” [Q.s. Fushshilat (41): 6].

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka beristiqamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” [Q.s. Huud (11): 112].

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُم

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan istiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka….” [Q.s. asy-Syuura (42): 15].

 

Buah Istiqamah

Sebagai sebuah akhlak yang mulia, sikap istiqamah yang dimiliki oleh orang beriman akan membuahkan banyak hal-hal positif. Dalam surat Fushshilat ayat 30-32 disebutkan: 

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمۡ تُوعَدُونَ -٣٠- نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ‌ۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِىٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ -٣١- نُزُلاً۬ مِّنۡ غَفُورٍ۬ رَّحِيمٍ۬ – ٣٢

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” [Q.s. Fushshilat (41): 30-32].

Dalam ayat-ayat di atas dijelaskan bahwa orang yang beristiqamah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih yang negatif. Takut di sini tentu bukan takut yang manusiawi, seperti takut kepada binatang buas atau kepada hal-hal berbahaya lainnya. Rasa takut yang negatif misalnya adalah takut menyatakan kebenaran, menghadapi masa depan, dan mengalami kegagalan. Ketakutan seperti itu akan menghambat kemajuan dan bahkan menyebabkan kemunduran. Seseorang tidak akan dapat berbuat apa-apa apabila selalu dipenuhi rasa takut.

Rasa sedih yang dimaksud di sini juga bukanlah rasa sedih yang manusiawi, seperti kesedihan tatkala orangtua, anak, atau orang-rang yang dikasihi meninggal dunia, atau ketika sedang mengalami kegagalan dalam usaha. Rasa sedih yang mesti dihindari adalah rasa sedih yang berlarut-larut dan menyebabkan kehilangan semangat dan selalu diliputi penyesalan. Setiap orang yang mengalami musibah atau kegagalan tentu akan bersedih. Tapi ada orang yang dapat segera menguasai kesedihannya dan ada pula orang yang larut dalam kesedihan itu. Ibarat orang yang hanyut di sungai, orang yang pertama segera berenang ke pinggir untuk mencari pegangan, sedangkan orang yang kedua terus hanyut dibawa arus. Jadi, orang yang istiqamah tidak takut menghadapi masa depan dan tidak akan hanyut dalam kesedihan. Dia dapat menguasai rasa sedih karena musibah yang menimpanya sehingga tidak hanyut dibawa arus kesedihan. Dia juga tidak gentar dan waswas menghadapi kehidupan masa yang akan datang, sekalipun dia pernah mengalami kegagalan pada masa lalu.

Selanjutnya, orang yang beristiqamah akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupannya di dunia. Hal ini disebabkan karena dia dilindungi oleh Allah SWT. Lindungan Allah itu juga berarti jaminan untuk mendapatkan kesuksesan dalam hidup dan perjuangan di dunia. Sahabat-sahabat yang berjuang dalam Perang Badar misalnya, sekalipun jumlahnya kurang dari sepertiga musuh, mereka tidak gentar dan tidak mundur. Mereka istiqamah, maju terus ke medan perang dengan gagah berani. Akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka. [Baca: Q.s. al-Anfaal (8): 45]. Begitu juga di akhirat. Orang yang istiqamah akan berbahagia. Allah SWT berjanji akan melindungi mereka di akhirat. Itu berarti mereka akan dibalas dengan surga tempat segala kenikmatan dan kebahagiaan. Mereka akan menikmati karunia Allah di dalam surga itu.

Demikianlah, sikap istiqamah memang sangat diperlukan dalam kehidupan ini. Tanpa sikap itu, seseorang akan cepat berputus asa, cepat lupa diri, dan mudah terombang-ambing oleh berbagai macam arus yang menggoda dalam kehidupannya. Orang yang tidak istiqamah ibarat baling-baling di atas bukit. Dia berputar menuruti ke mana arah angin berhembus [  ]

 

narasumber utama artikel ini:

Mahli Zainuddin Tago

 

[1] Disadur dari buku Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta: LPPI UMY), hlm. 97-103.

banner 468x60